Dampak PSBB Bagi Pengelola Pusat Perbelanjaan

Pusat Perbelanjaan

Baru dua bulan operasional mal atau pusat perbelanjaan dibuka, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali akan menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total pada pekan depan. Rencana kebijakan ini dinilai akan tambah memperparah keuangan emiten pengelola pusat perbelanjaan yang sudah jatuh sejak semester I tahun ini.

Sejak pemberlakuan PSBB April lalu, sebanyak 197 mall di Jakarta tutup. Pemprov DKI baru membolehkan pusat perbelanjaan dibuka pada Juni lalu. Pengusaha pun resah, karena pendapatannya sudah tergerus besar tahun ini. Bahkan, sejak mall kembali dibuka pengunjungnya masih sepi. Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) pun berupaya melobi Pemprov DKI untuk melonggarkan kebijakan ini.

Wakil Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, pelaku usaha saat ini masih berupaya semaksimal mungkin untuk bertahan di tengah pandemi. Sebab, kegiatan usaha di pusat perbelanjaan masih belum pulih hingga saat ini. Tapi kalau kondisi semakin memburuk, tidak tertutup kemungkinan terpaksa akan terjadi lagi efisiensi tenaga kerja, kata Alphonzus kepada Katadata, 

Kebijakan PSBB Untuk Perbelanjaan Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 dan kebijakan PSBB telah membuat pendapatan perusahaan pengelola pusat perbelanjaan anjlok. Perhitungan APPBI, transaksi di pusat perbelanjaan mencapai 12 triliun dalam satu bulan. 

Penurunan pendapatan sudah bisa terlihat dari laporan keuangan emiten pengelola pusat perbelanjaan sepanjang semester I-2020. Pendapatan atau penjualan hampir seluruh emiten pengelola pusat perbelanjaan tercatat menurun sepanjang semester I-2020.

Dari 10 emiten, hanya Lippo Cikarang yang terlihat mengalami peningkatan. Namun, peningkatan penjualan Lippo Cikarang bukan dari bisnis mall. Sekitar 66,3% penjualan perseroan disumbang oleh penjualan rumah hunian dan apartemen.

Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) Tulus Santoso mengatakan pendapatan dari bisnis pusat perbelanjaan perusahaannya turun lebih dari 50% pada semester I-2020. Penurunan ini terjadi karena dalam enam bulan pertama tahun ini, pusat perbelanjaan yang dikelola Ciputra hanya bisa beroperasi bulan. Dua bulan Sepanjang April dan Mei 2020, perbelanjaan Ciputra tidak bisa beroperasi akibat kebijakan PSBB yang diberlakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Mulai pekan depan, operasional perbelanjaan akan kembali dibatasi, imbas dari kebijakan PSBB ketat yang akan diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kami patuh menjalankan protocol kesehatan, termasuk mengikuti arahan yang ditentukan pemerintah terhadap operasional mall, ujarnya

Strategi Bisnis Untuk Menutup Kerugian Di Bisnis Penjualan

Terkait dengan strategi bisnis untuk menutup kerugian di bisnis pusat perbelanjaan, Tulus mengatakan Ciputra akan fokus pada bisnis properti. Penjualan rumah tapak akan menjadi ujung tombak dalam menggenjot pendapatan hingga akhir tahun. Kami akan fokus pada penjualan residential landed house dengan harga di bawah Rp 2 miliar.

Tulus mengaku masih menghitung berapa besar pendapatan dan dampak penutupan mall terhadap Ciputra pada Semester II-2020. Kinerja Semester II-2020 tergantung aturan psbb, akan berapa lama (operasional perbelanjaan) ditutup.

Sementara Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) Minarto Basuki mengatakan sumber pendapatan perusahaan terbagi dua. Pertama, recurring, yakni bisnis perbelanjaan, perkantoran, dan hotel. Kedua, development, yakni perumahan, apartemen, dan penjualan perkantoran. Kedua sumber itu selama ini balance (seimbang) di kisaran 50:50 terhadap total pendapatan perusahaan.

Di antara kedua sumber pendapatan tersebut, recurring yang paling berdampak dari kebijakan PSBB yang diberlakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pengelola Mall Kota Casablanca dan Gandaria City ini tercatat mengalami penurunan pendapatan Semester I-2020 hingga 43,7%, menjadi 1,97 triliun.

Kinerja Saham Emiten Pengelola Mall

Pergerakan saham emiten-emiten sepanjang tahun ini anjlok sangat dalam. Dari 10 emiten, seluruhnya mencatat penurunan harga saham. Penurunannya sejak awal tahun hingga 11 September tahun ini berada dalam rentang 10-73%.

Matahari Department Store tercatat mengalami penurunan paling besar, yakni 73,04%. Sedangkan saham emiten yang penurunannya rendah hanya Megapolitan Development, yakni 10,7%. Anjlok harga saham-saham emiten pengelola perbelanjaan ini salah satunya terkait kinerja keuangan yang rendah sepanjang tahun ini, akibat pandemi Covid-19.

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya merekomendasikan membeli saham-saham emiten pengelola perbelanjaan pada saat harga yang sedang rendah saat ini. Dengan harapan angka penyebaran virus corona sudah mencapai puncak dan vaksin Covid-19 sudah distribusikan, bisnis perbelanjaan akan kembali normal.

Baca Juga : 11 Tempat Darmawisata Berbelanja Di Cina Buat Wisatawan

Dampak PSBB Bagi Pengelola Pusat Perbelanjaan